Lynx melihat Isha dari dalam formasi di kejauhan memandangi dirinya dengan ekspresi terkejut. Ia baru menyadari, seluruh pakaiannya hancur terkena ledakan serangan terakhir Leena.

"Ah... aku lupa jika ada orang lain di tempat ini," gumam Lynx cepat. "Seharusnya aku langsung mengganti pakaianku tadi."

Dengan satu gerakan tangan, ia mengeluarkan seperangkat pakaian dari cincin penyimpanannya, jubah khas kultivator berwarna biru tua.

Ia mengenakannya dengan cepat, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Leena yang tak sadarkan diri ke dalam pelukannya.

"Dia... kenapa, Kak?" tanya Isha cemas saat Lynx membawa Leena masuk ke rumah tempatnya berlindung.

"Tenang, dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan perlu istirahat," jawab Lynx sambil meletakkan Leena di atas tempat tidur didalam ruangan. Ia memberikan pil dan menyalurkan qi spiritual ke tubuh Leena agar pemulihannya lebih cepat.

"Tadi aku melihat tubuh kak Leena bersinar-sinar bahkan keluar api. Apakah terjadi sesuatu dengan kak Leena?" Tanya Isha dengan nada sangat khawatir.

"Nanti kak Lynx jelasin ya. Di tempat yang Isha datangi nanti, akan sering menemukan kejadian seperti ini. Jadi Isha jangan heran." Kata Lynx sambil memeriksa tubuh Leena.

Sementara itu, di dalam laut kesadaran Leena, dunia yang luas dan gelap membentang tanpa batas. Di tengah ruang itu terlihat sosok wanita jelita melayang, berambut merah menyala, mengenakan gaun panjang yang tampak terbuat dari cahaya dan bara api.

"Kita bertemu lagi, Leena," ucap wanita itu dengan suara lembut, senyumnya penuh misteri.

"Siapa anda sebenarnya? Dari mana tahu namaku? Di mana ini?" Leena melangkah mundur sedikit, suaranya waspada. Matanya menyapu sekeliling, mencoba memahami tempat asing yang hanya berisi kegelapan tak berujung. Hatinya berdebar saat menyadari wanita di depannya adalah sosok yang dulu mengaku sebagai roh yang terluka dan memberinya kekuatan serta menyebut dirinya berasal dari ranah dewa. Namun ia belum menyadari bahwa dirinya kini berada di dalam laut kesadarannya sendiri.

Wanita itu tersenyum samar mendengar banyak pertanyaan ditanyakan sekaligus oleh Leena."Namaku Yan Ruyan, di duniaku, orang memanggilku sebagai Dewi Api. Terima kasih karena kamu telah menyimpan rahasia keberadaanku dengan baik selama ini. Walaupun dalam kondisi meditasi, aku selalu menyadari apa yang terjadi di dunia luar. Karena itu aku tahu banyak tentang kalian. Saat ini kita berada di dalam laut kesadaranmu."

"Laut kesadaranku?" Leena mengernyit, suaranya mengandung ketidakpercayaan. Secara teori ia tahu bahwa seorang Grandmaster bisa mengakses alam kesadarannya sendiri, namun selama ini ia belum pernah mencobanya karena ranahnya masih terlalu rendah.

"Betul, ini laut kesadaranmu. Kelak, kamu bisa membentuknya sesuai keinginan agar tidak gelap gulita seperti sekarang, dan di tempat ini juga kamu bisa berlatih tanpa ada yang bisa menggangumu." jawab Yan Ruyan dengan nada tenang.

"Apakah anda bukan dari dunia ini, Dewi?" Tanya Leena dengan nada ragu.

Yan Ruyan menganggukkan kepalanya."Sebenarnya kita berada di ruang waktu yang sama, dimensi yang sama. Hanya saja, dunia tempat kita berada saat ini di sebut dunia bawah. Dan dunia tempatku berasal disebut dunia Surgawi."

Leena menatapnya penuh keraguan. "Dunia surgawi? Bukankah dulu dia bilang berasal dari ranah dewa. Apakah ranah dewa yang dia maksud adalah dunia surgawi?" Batin Leena. Dia ingin bertanya tetapi merasa ragu, dia belum mengenal sosok Dewi Api didepannya.

"Dewi Api, bukankah anda mengatakan sedang memulihkan diri? Apa sekarang sudah pulih?" Leena berusaha menjaga kata-katanya karena dia tidak ingin membuat wanita di depannya marah. Leena merasa kekuatan asli wanita ini jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.

"Leena, kamu tak perlu terlalu kaku atau sungkan padaku. Selama ini kamu sudah melindungi keberadaanku. Aku benar-benar berterima kasih. Kamu bisa memanggilku dengan Yan Ruyan." ujar Yan Ruyan sambil tersenyum lembut.

Yan Ruyan melanjutkan kata-katanya,"aku masih harus memulihkan diri. Energi di dunia ini terlalu tipis sehingga pemulihanku menjadi lambat. Selain itu karena kejadian di luar, membuatku harus membereskan terlebih dahulu."

"Kejadian di luar?" Leena terdiam. Perkataan Yan Ruyan mengingatkan perkataannya di awal tadi sehingga membuatnya berpikir. "Dia mengetahui semua yang terjadi di dunia luar? Berarti... dia tahu apa yang kulakukan bersama Lynx," batinnya. Seketika wajahnya memerah.

Melihat ekspresi Leena, Yan Ruyan langsung bisa menebak isi pikirannya. Wajahnya pun ikut memerah. Saat Leena dan Lynx melakukan hubungan intim, ia yang belum pernah mengalami hal serupa merasa sangat terganggu. Ia sempat berusaha menutup seluruh panca indranya agar tak menyaksikan apapun, tapi rasa penasarannya tak bisa dibendung. Ia sempat berpikir tak apa sedikit mengintip, demi menambah pengetahuan akan hal-hal semacam itu. Bahkan melihat permainan mereka berdua, membuat hasrat gairah yang belum pernah dirasakannya timbul, membuat rohnya terasa panas dan membuat  jalur energinya terluka.

Namun dia tidak bisa mengentikan rasa keingintahuanmya, dan tetap mengintip saat Lynx dan Leena bercumbu. Bahkan dia memikirkan nasibnya selama ribuan tahun selalu sendiri, terlalu fokus meningkatkan kekuatannya, bahkan dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri.

Leena berdehem pelan, mencoba mengalihkan kecanggungan. "Dewi... Yan Ruyan, kenapa aku bisa berada di tempat ini? Apakah anda yang membantuku memasuki laut kesadaranku?" tanyanya, mengulang pertanyaan sebelumnya dengan nada lebih tenang.

Yan Ruyan menggelengkan kepalanya."Kamu tidak sadar bahwa Kanaya telah menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhimu. Dia mencoba membuatmu membunuh kekasihmu. Aku yang menghentikan pengaruhnya kepadamu. Saat pikiranmu sedang kacau, aku mengambil kesempatan itu untuk menguji kekuatan pasanganmu," jawab Yan Ruyan dengan tenang.

"Kanaya? Jadi..." Leena tak melanjutkan. Ingatannya langsung melayang pada kejadian saat Karim berada di bawah pengaruh hipnosis Kanaya, melakukan segala yang diperintahkan.

"Kapan dia melakukannya?" pikir Leena penasaran. "Jangan-jangan saat di kota Hesperia?" Leena mengepalkan tangannya merasa geram.

"Wanita itu akan menerima pembalasanku kelak jika bertemu lagi." Batinnya.

"Lalu bagaimana dengan kekuatan Lynx? Apa Anda sudah mengujinya?" tanya Leena, suaranya tegas namun penasaran.

"Lihatlah ini," ujar Yan Ruyan sambil melambaikan tangannya. Dengan kekuatannya, Yan Ruyan memperlihatkan sebuah bayangan holografis yang terbentuk di udara, memperlihatkan tubuh Leena yang dikendalikannya dan bertarung melawan Lynx.

"Aku hanya ingin tahu seberapa kuat pemuda bernama Lynx itu," katanya tenang. "Kupikir dia luar biasa... tapi ternyata, di Alam Surgawi, kekuatan seperti miliknya termasuk biasa saja. Banyak yang jauh lebih kuat. Di dunia ini dia tidak akan menemukan lawan, tapi di atas sana, dunia surgawi, bisa menjadi ancaman untuknya."

"Banyak yang lebih kuat?" Leena menutup mulutnya yang merasa kaget, matanya melebar. Jika tidak melihat sendiri tubuh Lynx terlempar hingga menembus gunung, Leena tidak akan mempercayainya. Selama ini dia berpikir tidak akan ada yang bisa melukai mereka selama ada Lynx. Namun hal yang dia khawatirkan menjadi kenyataan, Dewi Api di depannya yang sedang terluka mampu membuat Lynx terlempar sangat jauh, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Lalu bagaimana kondisi Lynx?" Tanyanya khawatir, tubuhnya menegang.

"Jangan khawatir, kekuatan yang kukeluarkan sudah kubatasi menyesuaikan dengan kemampuan tubuhmu menerimanya. Selain itu, dia juga yang memindahkanmu ke dalam rumah bersama anak kecil yang bersama kalian." Jawab Yan Ruyan dengan tersenyum.

Leena menghela napas lega setelah mendengar Lynx baik-baik saja. Leena bertekad secepat mungkin menemukan cara untuk kembali pulang dan memastikan Lynx tidak berhadapan dengan orang-orang dari dunia surgawi.

Leena tiba-tiba menyadari sesuatu hal, membuat badannya merinding. Rasa cemas melanda hatinya."Bagaimana bisa anda menguasai tubuhku?"

Yan Ruyan mendekat sedikit, suaranya lebih lembut. Dia menyadari kekhawatiran Leena. "Tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah berniat jahat kepadamu. Kau berada dalam keadaan tidak seimbang. Saat kesadaranmu mulai terganggu oleh pengaruh hipnosis wanita bernama Kanaya, aku mengambil alih. Saat kesadaranmu lemah, tubuhmu terbuka. Aku hanya meminjam sebentar. Namun tubuhku tidak bisa bertahan lebih lama dan pingsan, itu sebabnya aku menarik jiwamu ke tempat ini."

"Kanaya…" bisik Leena, matanya menyipit. "Ini semua gara-gara wanita itu."

"Leena, aku akan kembali bermeditasi untuk memulihkan diriku. Menggunakan tubuhmu membuat energi ku kembali tidak stabil. Kita akan bertemu lagi dan aku akan menjelaskan lebih banyak hal yang ingin kamu ketahui kelak." Yan Ruyan mulai duduk bersila, tubuhnya bersinar perlahan.

"Aku harus segera memulihkan diri. Aku yakin mereka akan mencari keberadaan ku di dunia ini. Jika mereka menemukan cara untuk datang ke tempat ini, akan sangat berbahaya bagi mereka semua. " Batin Yan Ruyan.

